masih designer @logonius | INFP(T) | tukang gambar di instagram
Install Theme
Kalo dipikir-pikir, setan itu cuma bisikin doang. Musuh terbesar masih tetap diri sendiri.
“RahmatKu lebih luas dari azabKu” demikian kata Allah. Barangkali ada dari kita yang begitu sibuknya, entah itu supir luar kota, pilot, atau yang sedang di offshore, yang tidak memungkinkan untuk beri'tikaf. Barangkali hanya dengan menjaga shalat witir 1 rakaat sepanjang 10 hari terakhir, mereka mendapat lailatul qadar. Barangkali hanya dengan sedekah saat malam. Barangkali dari taubatnya para pemabuk yang mulutnya masih bau miras, atau taubatnya pelacur yang masih di ranjangnya. Semua pintu-pintu surga sedang dibuka seluas-luasnya. Semua.

— Ust. Bachtiar Nasir

Indeed.

Indeed.

Tak hingga

Dialog Dini Hari - Memilih

Sekedar obrolan bersama pakdhe dan teman-teman kantor, sila jika ingin mendengarkan, dalam bahasa jawa tentunya :p

ps. mungkin ada pandangan agama yang berbeda buat temen temen dalam dialog ini, kalem saja hihi.

https://drive.google.com/file/d/1D2ArPTl_7Bv6B5WTne7XN8qnoaTEjUOW/view?usp=drivesdk

Kalau dulu pernah mimpi mati, bangun dalam kubur, kali ini mimpi sakaratul maut. Sama-sama seremnya.

— Pas mimpi inget dosa-dosa, penyelasan maksiat & merasa belum berbakti. Tapi…. Nanti lalai lagi na'udzubillah :(

Saat memantau perkembangan website kantor, ada permasalahan ketika render image di Chrome selalu menampilkan gambar yang lama meskipun sudah clear cache, history, cookies (mungkin tidak benar-benar terhapus). Triknya sederhana, tinggal pencet CMD + SHIFT + R tahan terus sampe dianya berubah pemikiran menjadi mau denganmu #halah #cupu

#NgajiRabu - Dosis

“Sebab seseorang mendapat hidayah, itu lebih baik daripada mendapat unta merah.” Bisa jadi dengan suatu ajakan, dengan pesan singkat, dengan desain, whatsapp, status. Hari ini begitu mudah dengan adanya media sosial, maka gunakan dengan sebaik-baiknya. Di satu sisi mudah peluang pahala, di sisi lain mudah pula peluang dosanya. Iyya ka na'budu wa iyya ka nasta'in, hanya kepadaMu kami menyembah, hanya karenaMulah kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan, hanya karena pertolonganMu. Allah suka diminta oleh hambaNya, karena jika tidak meminta kepada Allah maka akan membuka peluang untuk meminta kepada selain Allah. Diceritakan oleh ust Umar, di suatu tempat dulu mandiri secara finansial, lalu menjadi lemah ketika lembaga ribawi datang. Lha wong minta saja (pada Allah) bisa kok, malah milihnya berhutang. Yang percaya pada Allah banyak, tapi yang mempercayakan pada Allah atas masalah dan kehidupannya sedikit. Maka percaya pada Allah juga harus diikuti oleh percaya pada sifat-sifat keMaha Kuasaan Allah. Umat yang besar tapi kehilangan kekuatannya karena kehilangan sandaran. 314 lawan 1000 menang. Kalau kita dihadapkan pada permasalahan kaum muslimin sekarang, kita nyaris putus asa. Tapi kalau kita mengingat kisah badar, kita juga mengingat kisah kisah sebelumnya, kisah Talut. Dari yang awalnya 80.000 dan disaring dengan sungai, menjadi 314. Sama dengan jumlah para pejuang badar. Ujian loyalitas. Ujian kesabaran. Diuji dengan hanya boleh minum secangkupan tangan ketika singgah dalam perjalanan panjang, pasukan talut yang minum banyak justru malah lemas. Sebagaimana hidup, kita harus hidup seperti seorang musafir yang singgah. Seperti pula saat puasa, lalu minum seteko saat buka. Maka saat tarawih akan terasa berat. Padahal masalahnya bukan pada bacaan imam yang terlalu banyak, tapi minum terlalu banyak. Seperti kehidupan di dunia ini, terlalu nyaman tinggal di dunia lalu tertinggal. Banyak cerita-cerita dari jamaah, ustadz, santri. Mereka punya keluhan, sudah menjaga shalat tahajud, baca qur'an, shadaqah tapi belum ada perubahan dalam kehidupan. Lalu muncul lah sindrom kekecewaan, karena kesannya tausiyah-tausiyah tentang dhuha, sedekah, terkesan mengada-ada. Allah berfirman pada lebah untuk membuat rumah-rumah di gunung-gunung, pohon kayu, tempat lain buatan manusia.. lalu makanlah buah-buahan dan tempuhlah jalan TuhanMu yang dimudahkan bagimu. Sudah dipel, basah lagi. Di pel lagi, basah lagi, dan lupa untuk menengok ke atas. Bocor. Dosa apa yang telah kita lakukan sehingga menghalangi kita dari kebaikan-kebaikan. Dilanjutkan, dari lebah itu muncul madu yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sebagian penyakit, tidak semuanya. Ternyata, Allah telah mengukur segala sesuatu dengan demikian rapinya. Maka, coba kita ukur apa yang telah kita lakukan. Alangkah indah orang yang menyerahkan segala sesuatunya pada Allah, harapan hanya satu sisi saja, sementara ada cinta yang membuatnya terikat pada Allah pada segala suasana. Dikabulkan cepet ya tetep berdoa, sedang ya tetep berdoa, lama ya tetep berdoa. Karena doa adalah tingkatan tertingginya. Jika kita menumpang di rumah seseorang, kita merasa tidak leluasa. Mau begini ngga enak mau begitu ngga enak. Begitupun dengan kehidupan kita, sebenernya kita numpang di bumi Allah. Kalau durhaka dan diusir dari bumi, kita mau ke mana? Kalau misal kita merasa tidak leluasa, wajar. Segala sesuatu ada dosisnya, sesuai kadar urusannya. Sakitnya tipes, minum madunya satu sendok teh. Apalagi sudah tiga empat hari. Ya ngga ngangkat. Paling ngga satu gelas. Sudah tahajud/dhuha tapi masih begini begini saja. Cek dosisnya. Jika dhuha 2 rakaat badan sehat, wajar. Rezeki ngga naik-naik, wajar. Shalat dhuha 4 rakaat lalu rezekinya cukup sampai sore, wajar. 6 rakaat rezeki dijamin sampai pagi, wajar. Bagaimana jika langsung 12 rakaat? Maka dicatat untuk mudah taubat, untuk kembali pada Allah. Dosis shalat tahajud di surat muzammil sudah dijelaskan, sebentar itu ½ malam. Jika tidak kuat, maka 1/3 malam. Kalau kuat, maka dinaikkan. Alsngkah lamanya, tapi itu dosisnya untuk merubah kehidupan. Betapa banyak semangat yang besar menggelora lalu kehabisan baterai di tengah jalan. Maka nge charge diri harus lama. Tidak shalat malamnya pasukan shalahudin al ayuubi lebih ditakutkan daripada tidak ronda malam. Jika tidak ronda malam, masih ada yang menjaga dari musuh yaitu Allah. Jika tidak shalat malam, bisa jadi musuh itu justru muncul dari diri sendiri. Dari yang awalnya kawan, lalu muncul menjadi musuh dengan sifat munafiknya. Lalu dosisnya ditambah dengan membaca qur'an.

Dahulu para shahabat & tabi'in, begitu mendengar satu ayat langsung dipraktekkan. Takut muncul ayat baru lagi dan belum bisa mempraktekkan. Kalaupun hari ini merasa terpaksa, itu tidak apa-apa. Karena ini jauh lebih baik daripada merasa nikmat ketika tidak melakukannya. Karena mestinya hati seorang mukmin merasa gelisah ketika jauh dari ibadah.

———–
Barangkali ada yang rumahnya deket sampangan, bisa ikutan ngajirabu di Masjid Taqwa al Muhajirin, Jl. Lamongan 3 no. 61 perumnas sampangan, semarang.

Munafik

Jika membaca An Nisa’ 61 - 64 rasa-rasanya keliatan banget pola orang-orang munafik yang ditunjukkan dalam ayat ini. Sekedar berbagi terjemahnya dari Al Qur'an sebagai catatan, karena saya bukan ahli tafsir. Kitab tafsir aja belum punya he he he.

Surah An-Nisa, Verse 61:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.

Di ayat di atas menerangkan bagaimana orang-orang munafik selalu menghalangi, menentang keras ajakan untuk tunduk kepada hukum yang dirunkan Allah dan rasulNya.

Surah An-Nisa, Verse 62:
فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا

Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.

Di ayat berikutnya, alasan mereka berbuat demikian tidak lain hanyalah untuk menginginkan kebaikan dan kedamaian saja.

Surah An-Nisa, Verse 63:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُل لَّهُمْ فِي أَنفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Sedangkan di ayat ini, adalah sikap yang harus kita lakukan untuk menghadapi orang-orang munafik, yaitu berpaling, memberi mereka pelajaran, dan berkata sesuatu yang dapat membekas pada hati dan jiwa mereka. Menurut pemahaman saya, mohon dikoreksi, tidak ada perintah untuk mencaci mereka sebagaimana yang sering kita lihat di media sosial dengan perumpamaan-perumpamaan, seperti kecebong, kaum bumi datar, panasbung, dsb. Perintah-perintah dalam ayat ini pun hanya ditujukan untuk yang nyata-nyata melakukannya, tidak berdasarkan dzan, prasangka. Tidak bisa kita menuduh tanpa bukti bahwa seseorang itu munafik.

Surah An-Nisa, Verse 64:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Semoga bermanfaat, mohon koreksinya jika ada kesalahan.

Mengapa Kritik (Termasuk pada Diri Sendiri) yang Sehat Itu Penting?

tristiul:

image



Baru 15 tahun, tapi sudah memenangkan kompetisi catur dunia. Dialah Bobby Fischer. Barangkali DPR dan pengkritiknya perlu belajar darinya. He he.

Usut punya usut, Fischer punya kebiasaan unik di tengah pertandingan.

Ia beranjak dari kursi, menepi beberapa langkah dari meja catur, kemudian memperhatikan papan catur seperti layaknya penonton pertandingan.

Lantas, Fischer kembali menjalankan pionnya dengan manuver yang tak dapat ia bayangkan sebelumnya.

Kisah tadi dipaparkan oleh Pak Uke Siahaan, dosen Investment. 

“Kita menjadi lebih pandai, kritis, ketika bukan menjadi bagian suatu masalah. Penonton lebih ‘pandai’ ketimbang pemain!”


Fischer tahu benar akan hal ini. Maka di tengah pertandingan, ia berubah menjadi ‘penonton’ untuk menggali perspektif baru dari permainan caturnya.



Ini membuatku berpikir. Sebagai pelaksana sesuatu, mengapa kita perlu kritik dari orang yang secara tidak langsung terlibat apa yang kita lakukan?


Karena ia tahu celah-celah kopong (blind spot) yang tak sempat kita perhatikan. Ia lebih 'pandai’.


Sebagai pengkritik, mengapa kita perlu mengkritik secara sehat– tidak merendahkan? 

Karena sebaliknya, yang kita kritik barangkali tidak melihat hal-hal yang kita leluasa lihat.

Berempati bukan mematikan kritik, tapi agar kritik tepat sasaran. Bebal atau tidaknya penerima kritik itu menjadi persoalan lain. Gaya. bahasa atau sopan santun itu relatif.

Terakhir, mengapa butuh melatih skill mengkritik diri sendiri, dengan sesekali menepi dan mengevaluasi apa yang kita kerjakan?

Agar kita melesat lebih jauh, bermental pemenang karena mengetahui kekuatan kita sekaligus rendah hati karena mengetahui kelemahan kita.

Wallahu’alam.


Gambar dari sini